RADIO STREAMING SEHATI - Cimahi, Menguatnya polarisasi sosial dan politik dinilai menjadi sinyal melemahnya internalisasi nilai-nilai kebangsaan. Anggota MPR RI Nurul Arifin menyebut kondisi tersebut sebagai tantangan serius yang harus dijawab dengan penguatan kembali Empat Pilar Kebangsaan, terutama Pancasila, dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam sosialisasi Empat Pilar MPR RI, Nurul menilai masyarakat Indonesia tengah menghadapi krisis nilai yang tidak selalu tampak di permukaan, tetapi nyata dalam praktik sosial—mulai dari mengerasnya identitas kelompok hingga menyempitnya ruang dialog di tengah perbedaan.
“Pancasila adalah the way of life bangsa Indonesia. Nilai-nilainya harus terus disampaikan secara konsisten, bukan hanya dipahami, tetapi dijalankan,” kata Nurul Arifin dalam Sosialisasi 4 Pilar MPR RI. Selasa, Cimahi 9 Desember 2025.
Ia menekankan, Pancasila tidak boleh direduksi menjadi jargon politik atau sekadar materi hafalan dalam forum-forum resmi. Ketika nilai-nilai itu gagal diimplementasikan, yang muncul adalah sikap eksklusif, intoleransi, dan fragmentasi sosial yang mudah dipolitisasi.
Nurul menyoroti peran generasi muda yang hidup di tengah arus informasi cepat dan sering kali terpolarisasi oleh algoritma media sosial.
Tanpa fondasi kebangsaan yang kuat, ruang digital justru berpotensi memperdalam jurang perbedaan alih-alih memperkuat persatuan.
“Empat pilar kebangsaan ini tidak boleh berhenti di ruang diskusi. Harus ada implementasi nyata dalam kehidupan sehari-hari, terutama oleh generasi muda,” ujarnya.
Menurut dia, tantangan kebangsaan hari ini tidak lagi bersifat fisik, melainkan ideologis dan kultural. Polarisasi politik, ujaran kebencian, hingga krisis keteladanan menjadi ujian serius bagi daya tahan nilai Pancasila sebagai perekat bangsa.
Karena itu, sosialisasi Empat Pilar perlu diarahkan pada upaya membumikan nilai—mendorong praktik toleransi, keadilan sosial, dan penghormatan terhadap keberagaman—bukan sekadar pengulangan konsep normatif.
Tanpa itu, Pancasila berisiko kehilangan relevansi di tengah generasi yang justru paling menentukan masa depan Indonesia.***
Editor: Andri Herdiansyah






