Sahabat Sehati Sejiwa, jangan salah! Tanggal 1 April bukan cuma identik dengan April Mop, tapi juga jadi hari spesial bagi insan radio dan dunia penyiaran di Indonesia. Di balik tanggal ini, tersimpan kisah bersejarah yang luar biasa: dari siaran radio pribumi pertama, tarian kerajaan Jawa yang dipancarkan hingga Belanda, sampai semangat penyiaran yang hari ini terus hidup lewat suara-suara hangat yang menemani kita setiap hari—termasuk dari Radio Streaming Sehati, radio karaoke interaktif mendunia.
Ya, setiap tanggal 1 April, Indonesia memperingati Hari Penyiaran Nasional (Harsiarnas). Melansir laman Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Harsiarnas ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo melalui Keputusan Presiden Nomor 9 Tahun 2019.
Penetapan ini menjadi bentuk pengakuan negara atas peran penting dunia penyiaran dalam perjalanan bangsa. Tanggal 1 April dipilih bukan tanpa alasan, karena berkaitan erat dengan sejarah berdirinya lembaga penyiaran pertama milik pribumi di Indonesia.
Lembaga tersebut bernama Solosche Radio Vereeniging (SRV), yang didirikan di Solo pada 1 April 1933. Kehadirannya menjadi tonggak awal penyiaran nasional, diprakarsai oleh KGPAA Mangkunegoro VII.
Namun, cikal bakal penyiaran di Indonesia sebenarnya sudah mulai tumbuh sejak 1927, ketika Mangkunegoro VII menerima hadiah berupa perangkat radio dari seorang Belanda. Sejak saat itulah, teknologi penyiaran mulai dikenal dan berkembang di kalangan masyarakat pribumi.
Yang menarik, sejarah SRV juga menyimpan kisah unik dan sangat berkelas. Saat itu, KGPAA Mangkunegoro VII ingin memberikan kado istimewa untuk pernikahan Putri Juliana, putri Ratu Belanda Wilhelmina, dengan Pangeran Bernhard. Ketika para raja lain di Nusantara mempersembahkan permata dan benda-benda berharga, Mangkunegoro VII justru memilih menghadiahkan pementasan tari tradisional Jawa.
Kado itu makin spesial karena penarinya adalah putri cantiknya sendiri, Siti Noeroel Kamaril Ngarasati Koesoemo Wardhani, yang lebih dikenal sebagai Gusti Nurul.
Pementasan tari tersebut akan diiringi gamelan Kyai Kanyut Mesem yang dimainkan langsung dari Pura Mangkunegaran, Solo. Hebatnya, alunan gamelan itu dipancarkan secara langsung melalui stasiun radio SRV hingga ke Negeri Belanda. Tarian yang dipilih adalah Sari Tunggal.
Rangkaian acara pernikahan kerajaan itu berlangsung pada Desember 1936 hingga Januari 1937. Karena perjalanan ke Belanda memakan waktu panjang, Mangkunegoro VII bersama permaisuri GKR Timur dan Gusti Nurul sudah berangkat sejak Agustus 1936.
Menurut Harry A. Poeze dalam tulisan Di Negeri Penjajah, inilah pertama kalinya seorang raja Jawa yang sedang berkuasa melakukan kunjungan ke Negeri Belanda. Selama sekitar empat bulan, rombongan menginap di Puri Oud-Wassenar.
Menariknya lagi, panitia pernikahan Putri Juliana baru mengetahui rencana pementasan tari ini setelah rombongan tiba di Belanda. Menurut Hary Wiryawan dalam buku Mangkoenegoro VII & Awal Penyiaran Indonesia, panitia awalnya sempat keberatan karena waktu persiapan sangat singkat untuk acara yang cukup rumit. Namun setelah diyakinkan oleh Mangkunegoro VII, pementasan tari itu akhirnya masuk dalam rangkaian acara resmi.
Sebulan sebelum hari-H, dilakukan uji coba. Gusti Nurul diminta menari lengkap dengan iringan musik langsung dari Pura Mangkunegaran Solo yang dipancarkan melalui SRV. Bertempat di gedung Pos, Telegraph, dan Telpon (PTT), Gusti Nurul menari di hadapan Ratu Wilhelmina dan anggota kabinet.
Di saat yang sama, Gusti Partinah, putri kedua Mangkunegoro VII, menari di Pura Mangkunegaran sebagai patokan bagi para pemain gamelan di Solo.
Gusti Nurul bahkan mengenang momen menegangkan saat uji coba itu.
“Pada saat tes, suara gamelan sempat hilang. Namun Ibu (Gusti Timoer) yang duduk di dekat pentas membantu dengan hitungan, sehingga tarianku dapat diselesaikan dengan baik”, katanya
Untuk mengantisipasi kendala teknis saat pementasan utama, perusahaan Philips kemudian merekam gending tersebut. Saat hari pementasan tiba, acara berlangsung di Istana Noordeinde, disaksikan para petinggi negara, raja dan ratu dari berbagai negara, serta kedua mempelai kerajaan.
Pementasan berjalan lancar dan sukses besar.
“Aku merasa lega”, ujar Gusti Nurul.
Penampilan tersebut ramai diberitakan surat kabar Belanda dan membuat para tamu undangan semakin tertarik mengenal kebudayaan Timur yang dibawa oleh Mangkunegoro VII. Dari sinilah kita bisa melihat bahwa sejak dulu, penyiaran Indonesia bukan sekadar teknologi, tetapi juga jembatan budaya, kebanggaan bangsa, dan alat diplomasi yang luar biasa.
Kini, peringatan Hari Penyiaran Nasional menjadi momentum penting untuk merefleksikan betapa strategisnya peran penyiaran dalam perkembangan Indonesia. Penyiaran bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga media informasi dan edukasi yang ikut membangun kehidupan sosial, budaya, dan politik masyarakat.
Dan hari ini, semangat itu terus hidup.
Termasuk lewat kehadiran Radio Streaming Sehati dengan taglinenya: radio karaoke, interaktif, mendunia.
Di tengah perkembangan zaman, radio tetap punya tempat di hati: menghibur, menyatukan, dan menghadirkan kehangatan dalam setiap suara.
Selamat Hari Penyiaran Nasional 2026!
Untuk seluruh penyiar, operator, kru, admin, request line warriors, dan Sahabat Sehati Sejiwa di mana pun berada, terima kasih karena tetap menjaga media audio ini tetap hidup.
Karena radio bukan sekadar siaran… radio adalah teman, kenangan, dan kebersamaan.
Radio Streaming Sehati… radio karaoke, interaktif, mendunia!
Salam guyub rukun forever!
Editor: Andri Herdiansyah






