Sahabat Sehati Sejiwa, siapa sangka tembang Sluku-Sluku Bathok yang sering kita dengar dengan irama santai dan menenangkan, ternyata menyimpan pesan kehidupan yang begitu dalam. Di balik syair sederhana yang akrab di telinga, terselip nasihat bijak tentang menjaga pikiran, ucapan, hingga hubungan manusia dengan Tuhan—sebuah warisan filosofi yang tetap relevan hingga hari ini.
Sahabat Sehati Sejiwa, tentunya pernah mendengar tembang Sluku Sluku Bathok terutama saat acara Campur Sari Campur Sehati yang dibawakan oleh mas Isdiyana Sejiwa pada tiap hari Senin pukul 08.00 WIB pagi dengan re run tiap hari Selasa pukul 15.00 WIB.
Ternyata lagu Sluku sluku bathok tersebut selain melodinya yang easy listening ternyata mempunyai syair bermakna filosofis yang dalam. Lagu Sluku sluku bathok mempunyai lima pedoman penting:
1. Saat sedang sendiri, hati2 dengan pikiranmu.
2. Saat sedang bersama teman, hati2 dgn lidahmu.
3. Saat sedang marah, hati2 dgn tindakanmu.
4. Saat sedang dalam masalah, hati2 dgn emosimu.
5. Saat Tuhan sedang memberimu berkah, hati2 dengan egomu.
Tembang ini dinisbatkan kepada Sunan Kalijaga sebagai penciptanya, tetapi pendapat lain ada yang menyebutkan Pangeran Sambernyowo (Mangkunegoro I). Adapun tembang yang menceritakan tentang hubungan antara manusia dan Tuhannya, serta kewajiban manusia selagi hidup dapat disimak sebagai berikut:
Sluku-sluku bathok
Bathoke ela elo
Si Rama menyang Solo
Oleh-olehe payung motha
Mak jenthit lolo lobah
Wong mati ora obah
Nek obah medeni bocah
Nek urip goleko dhuwit
Sluku-sluku bathok, berasal dari bahasa Arab, usluku suluka bathnaka, artinya jalankanlah, jalankanlah batinmu. Aktifkan batinmu untuk mampu menerima kebenaran dan jalan terang dari Tuhan.
Bathoke ela elo, bathnaka la ilaha illallah, batinmu (melantunkan) la ilaha illallah, tidak ada Tuhan selain Allah. Maksudnya senantiasa berdzikir kepada Allah, baik dalam waktu senang maupun di kala susah, di kala sibuk atau senggang, di kala sehat maupun di waktu tertimpa musibah. Sebab segala peristiwa yang menimpa manusia pasti mengandung hikmah.
Si Rama menyang Solo, sirru ma’a man sholla. Mandilah, bersucilah, kemudian kerjakan sholat. Sholat sebagai manifestasi dari firman Allah Swt: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Oleh-olehe payung motha, la ilaha illallah hayyun mauta, perbanyak dzikir kepada Allah selagi masih hidup, bertobat sebelum datangnya maut. Karena maut bisa datang sewaktu-waktu tanpa permisi.
Mak jenthit lolo lobah, wong mati ora obah, nek obah medeni bocah, nek urip goleko dhuwit. Bila maut menjemput, orang mati itu hanya sak jenthitan (satu tunggingan), setelah itu diam tidak bergerak selama-lamanya. Justru jika bergerak akan menakuti-nakuti anak kecil, sedangkan jika masih hidup adalah tugasnya mencari nafkah yang baik dan halal bagi keluarganya.
Demikian, semoga bermanfaat. Salam guyub rukun forever.***
Editor: Andri Herdiansyah






