RADIO STREAMING SEHATI – Bencana longsor berskala luas melanda Kampung Pasirkuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada Jumat (24/1/2026). Informasi terakhir. Tim Gabungan telah mencatat data sementara sebanyak 23 orang selamat, 9 orang meninggal dunia, 80 orang masih dalam pencarian.
Pencarian difokuskan pada dua sektor, yakni Sektor Alpha dan Sektor Bravo, dengan metode pencarian manual serta dukungan drone UAV. Penggunaan alat berat belum memungkinkan karena kondisi tanah yang masih labil dan berisiko. Sedangkan total personel yang terlibat sebanyak 504 personel, terdiri dari Basarnas, TNI, POLRI, BPBD, PLN Indonesia, serta unsur potensi SAR, organisasi masyarakat, dan relawan.
Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta analisis Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, longsor terjadi di wilayah RT 05 RW 11, RT 01 RW 11, dan RT 01 RW 10. Lokasi kejadian berada pada koordinat 6,796861° Lintang Selatan dan 107,539694° Bujur Timur dengan luas area terdampak mencapai sekitar 30 hektare.
PVMBG mencatat, wilayah terdampak merupakan kawasan perbukitan dengan aktivitas permukiman dan pemanfaatan lahan yang cukup intensif. Kondisi tersebut memperbesar risiko terjadinya gerakan tanah, terutama saat hujan lebat berlangsung dalam durasi lama.
Kondisi Geologi Picu Longsor Besar
Menurut PVMBG, secara morfologi daerah ini didominasi perbukitan vulkanik dengan kemiringan lereng berkisar antara 8 hingga 40 derajat, bahkan lebih dari 40 derajat di beberapa titik. Lereng curam tersebut terbentuk dari endapan gunungapi tua yang telah mengalami pelapukan lanjut.
“Batuan penyusun berupa breksi vulkanik, tuf, lava andesit-basalt, dan material piroklastik yang sudah lapuk, sehingga memiliki kuat geser rendah dan mudah mengalami kegagalan lereng,” demikian keterangan PVMBG dalam analisisnya sebagaimana dilansir Radio streaming Sehati dari laman resmi PVMBG, Senin, 26 Januari 2026.
Selain itu, wilayah Kabupaten Bandung Barat dipengaruhi sistem struktur geologi berupa sesar dan rekahan yang meningkatkan permeabilitas batuan. Kondisi ini mempercepat infiltrasi air hujan ke dalam lereng dan membentuk bidang gelincir longsor.
Curah Hujan Tinggi Jadi Pemicu Utama
PVMBG menjelaskan, faktor pemicu utama longsor adalah curah hujan tinggi yang terjadi sebelum dan saat kejadian. Air hujan yang meresap ke dalam tanah pelapukan meningkatkan tekanan air pori dan menurunkan daya tahan tanah.
Ketika gaya pendorong lereng melebihi gaya penahan, massa tanah dan batuan bergerak mengikuti bidang gelincir, memicu longsor dengan skala luas.
PVMBG Keluarkan Rekomendasi Darurat
PVMBG menegaskan, lokasi kejadian termasuk dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah. Pada zona ini, longsor dapat kembali terjadi, terutama pada lereng yang telah terganggu oleh aktivitas manusia dan saat hujan deras berkepanjangan.
Sebagai langkah mitigasi, PVMBG merekomendasikan agar masyarakat segera mengungsi ke tempat yang lebih aman karena potensi longsor susulan masih tinggi. Warga yang tinggal di sekitar lereng curam diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama saat dan setelah hujan lebat.
“Proses pencarian dan penanganan longsor harus memperhatikan kondisi cuaca. Aktivitas sebaiknya dihentikan saat hujan deras untuk menghindari risiko terhadap petugas,” tulis PVMBG.
Selain itu, pemerintah daerah diminta memasang rambu peringatan rawan longsor, meningkatkan sosialisasi kebencanaan kepada masyarakat, serta memastikan warga selalu mengikuti arahan resmi dari BPBD setempat.***
Editor: Andri Herdiansyah






